Komunikasi Antar Pribadi : Pengertian, Tujuan, Hambatan dan Contoh | Anyabila

Komunikasi Antar Pribadi : Pengertian, Tujuan, Hambatan dan Contoh

Sebagai manusia yang hidup saling berdampingan, sangat tidak mungkin dari kita tidak melakukan proses komunikasi. Komunikasi terbagi menjadi beberapa jenis, salah satunya yaitu komunikasi antar pribadi.

Selain itu, manusia satu-satunya ciptaan Tuhan yang memiliki akal. Oleh sebabnya, kita dapat saling bergotong royong, saling bertanggung jawab, dan terus berinovasi untuk kehidupan yang lebih baik. Sehingga manusia secara alamiah akan selalu termotivasi untuk saling berinteraksi.

Sebagai makhluk sosial, tentunya dalam penyampaian informasi tiap individu akan melalui proses komunikasi. Dan ilmu dari komunikasi akan sangat berguna penerapannya dalam teknik sales.

Dalam artikel ini, kita akan membahas mengenai komunikasi antar pribadi mulai dari pengertian komunikasi antar pribadi, tujuan komunikasi antar pribadi, hambatan komunikasi antar pribadi, dan contoh komunikasi antar pribadi.

Pengertian Komunikasi Antar Pribadi

Komunikasi antar pribadi adalah aktivitas penyampaian informasi komunikasi secara tatap muka antara dua orang atau lebih yang dilakukan dalam sekelompok kecil orang seperti lingkungan keluarga yang mana tujuannya untuk memberikan masukkan dan mendapatkan feedback secara langsung.

pengertian komunikasi antar pribadi
Gambar 1. Pengertian komunikasi antar pribadi

Dalam penyampaian informasi melalui komunikasi ini, akan melibatkan perasaan tiap individu sehingga harapannya komunikasi antar pribadi dapat memberikan umpan balik secara langsung dan cepat, baik melalui komunikasi secara verbal “ya” atau “tidak” dan secara non verbal seperti anggukan, senyum, atau pun marah.

Komunikasi antar pribadi sangat efektif untuk merubah perilaku orang lain karena komunikasi ini terjadi secara tatap muka, sehingga para komunikator yang berinteraksi lebih mudah memahami maksud dari percakapan yang sedang berlangsung.

Pengertian Komunikasi Antar Pribadi Menurut Para Ahli

Para ahli memberikan beberapa pengertian tentang komunikasi antar pribadi, sebagai berikut:

Menurut Devito (1989:4) dalam bukunya ‘The Interpersonal Communication Book’, komunikasi antar pribadi adalah proses pengiriman dan penerimaan pesan antara dua orang atau kelompok yang memiliki beberapa berdampak  dan umpan balik cepat.

Evert M Rogers juga memberikan pengertian sebagai berikut, komunikasi antar pribadi merupakan komunikasi dari mulut ke mulut, dengan adanya interaksi tatap muka antara beberapa orang individu.

Sedangkan, menurut Dean Barnulus, komunikasi antar pribadi adalah interaksi yang terhubungkan dengan pertemuan antara dua orang, tiga orang atau pun lebih yang terjadi secara spontan dan tidak terorganisasi.

Lain dengan Onong U Effendy yang mengemukakan bahwa komunikasi antar pribadi adalah komunikasi antara dua orang dimana interaksi langsung terjadi dalam sebuah percakapan yang langsung berhadapan muka atau melalui media komunikasi seperti telepon.

Sehingga dapat kita simpulkan berdasarkan teori para ahli bahwa komunikasi antarpribadi adalah komunikasi yang terjadi antara dua orang atau lebih yang memiliki efek umpan balik seketika dan terjadi secara dua arah.

Teori Komunikasi Antar Pribadi

Untuk memahami lebih mendalam mengenai komunikasi ini, pahamilah teori berikut.

  1. Aprehensi komunikasi
  2. Self-Disclosure
  3. Penilaian Sosial
  4. Penetrasi Sosial
  5. Pengurangan KetidakPastian
  6. Dialetika Relasional
6 teori komunikasi antar pribadi
Gambar 2. 6 Teori komunikasi antar pribadi

Aprehensi komunikasi

Aprehensi komunikasi bersifat kognitif, artinya adanya aktivitas mental yang membuat suatu individu mampu menghubungkan, menilai, dan mempertimbangkan suatu peristiwa, sehingga individu tersebut mendapatkan pengetahuan setelahnya.

Dalam kasus aprehensi komunikasi ia memiliki rasa takut dan khawatir saat terjadi interaksi komunikasi yang dapat menyebabkan ia tidak dapat memahami sebab akibat masalah sosial.

Aprehensi komunikasi ini dapat terjadi Ketika individu mengalami pengalaman yang buruk selama proses komunikasi sehingga ia takut untuk memulai komunikasi kembali. Hal yang dapat menyebabkan aprehensi komunikasi adalah sebagai berikut:

  1. Aktivitas yang berlebihan, dimana ia bersikaf sangat aktif bahkan sebelum kegiatan dilakukan.
  2. Proses kognitif yang kurang tepat, yaitu ia tidak nyaman ketika menghadapi situasi untuk berkomunikasi.
  3. Keterampilan komunikasi yang belum cukup, artinya ia tidak tahu bagaimana cara berkomunikasi secara efektif.

Self-Disclosure

Pada komunikasi self-disclosure, individu mulai berani untuk terbuka akan dirinya dan memberitahukan informasi mengenai dirinya secara mendalam terhadap individu lain, bahkan yang ia anggap sebagai rahasia.

Menurut fister (1986:243), komunikasi self disclosure merupakan bagian dari ilmu komunikasi dari perspektif internasional dengan fokus utama adalah faktor interaksi yang melibatkan indikator sebagai individu sosial. Sehingga akan mengembangkan potensi kemanusian dengan adanya interaksi secara sosial.

Penilaian Sosial

Dalam penilaian sosial, akan menghadapi dua tipe penerimaan informasi yaitu dengan cara kontras dan asimilasi.

Maksudnya, secara kontras akan menimbulkan efek distorsi perseptual yaitu penyimpangan yang dapat menghalangi proses pencapaian suatu tujuan komunikasi yang menimbulkan polarisasi ide. Misalnya, pandangan terhadap ganja yang bermanfaat bagi tubuh manusia dan juga menimbulkan banyak kerugian.

Ada pula asimilasi yaitu kondisi dimana terjadi penyelewengan dalam melakukan penilaian yang bertentangan terhadap suatu informasi sehingga menimbulkan penyatuan ide. Misalnya adalah kata ‘sorry’ dari Bahasa inggris yang saat ini sering digunakan oleh kawula muda untuk mengganti kata maaf.

Dalam Teori Penilaian Sosial yang berpengaruh pada komunikasi antar pribadi, antara lain :

  1. Pembicaraan dengan kredibilitas tinggi, yang dapat melancarkan penyampaian pesan secara jelas tanpa menimbulkan miss persepsi pada tiap individu yang berinteraksi.
  2. Adanya informasi yang bermakna lebih dari satu dan seringkali dinilai lebih baik dibanding dengan informasi satu makna. Hal ini sering kita dapati pada iklan yang terkadang memiliki beberapa makna.
  3. Adanya Individu yang bersifat dogmatis yaitu pandangan yang bersifat mengikuti atau menjabarkan suatu ajaran tanpa kritik sama sekali dalam menghadapi permasalahan.

Penetrasi Sosial

Artinya, suatu interaksi komunikasi akan semakin intim antar pribadi secara gradual atau bertahap. Proses ini dimulai dari tahap yang biasa, mulai memahami, dan akhirnya pada komunikasi yang lebih mendalam (intim).

Penetrasi sosial dapat kita lihat dari proses pertemanan atau pernikahan.

Awal mula akan berhadapan dengan proses komunikasi pengenalan, kemudian mulai membagi informasi seiring waktu, dan akhirnya menjadi tempat utama dalam menyampaikan informasi baik saran dan keluhan.

Pengurangan Ketidakpastian

Dalam komunikasi ini, seseorang akan mencoba untuk memahami mengenai siapa lawan bicaranya. Hal ini ia lakukan agar meminimalisir ketidaknyaman dan ketidakpastian ketika terjadi proses komunikasi.

Adanya usaha memahami terlebih dahulu siapa lawan bicara kita dapat memunculkan rasa nyaman dan tenang selama proses komunikasi berlangsung. Kita tidak takut jika salah berucap atau tidak sengaja menyinggungnya.

Jika kita tidak memahami lawan bicara yang akan kita hadapi, tentunya akan menyebabkan ketidaknyamanan dalam proses komunikasi.

Contohnya ketika kita sedang asyik mengobrol dengan seseorang, kemudian datanglah temannya dan bergabung dengan kita. Sedangkan kita tidak mengenal dia sama sekali, maka akan timbul rasa canggung, tidak nyaman dan khawatir salah bicara.

Dialetika Relasional

Dalam proses komunikasi terkadang kita merasa menyetujui atau pun tidak menyetujui argumen dari lawan bicara sehingga menimbulkan tarikan konflik didalam batin kita apakah menyetujui atau pun menolak.

Teori dialetika relasional menyatakan bawah setiap individu yang menjalin komunikasi antar pribadi akan memiliki tarikan konflik didalam batin mereka. Dialetika relasional disebabkan oleh seseorang mencoba memaksakan keinginannya satu terhadap yang lain.

Misalnya ketika kita sedang berkomunikasi dengan seorang teman. Ia curhat tentang masalahnya dengan pasangannya. Kemudian dia berargumen bahwa pasangannya itu salah dan menjabarkan alasannya. Terkadang, kita dengan pikiran yang rasional beranggapan bahwa orang tersebut salah. Tetapi, kebanyakan kita tetap menyetujui argumennya karena takut hubungan kita nantinya tidak akan harmonis.

Karakteristik Komunikasi Antar Pribadi

Komunikasi antar pribadi memiliki 6 karakteristik menurut Judy C. Pearson pada tahun 1983, antara lain:

  1. Bermula pada diri sendiri
  2. Mencakup isi pesan dan hubungan antar pribadi
  3. Adanya kedekatan fisik antara pihak yang berkomunikasi
  4. Bersifat transaksional
  5. Adanya ketergantugan satu sama lain
  6. Komunikasi antar pribadi tidak dapat diubah maupun diulang

Bermula pada diri sendiri

Kita sebagai individu tentunya memiliki pengalaman, minat, hingga pengetahuan yang berbeda dari indvidu lainnya. Sedangkan dalam komunikasi akan menyangkut berbagai persepsi dari pengamatan dan pemahaman.

Oleh karena itu, komunikasi antar pribadi akan sangat dipengaruhi oleh siapa diri kita, bagaimana pengalaman kita terhadap komunikasi tersebut, hingga pengetahuan mengenai topik yang dibicarakan.

Tentunya, semakin berkualitas pengalaman dan pengetahuan kita terhadap suatu topik, akan semakin efektif juga informasi yang dapat tersampaikan kepada lawan bicara. Hal tersebut, berlaku sebaliknya.

Mencakup isi pesan dan hubungan antar pribadi

Artinya, ketika suatu komunikasi terjadi bukan hanya mengenai informasi pesan saja yang kita tukar dalam komunikasi, tetapi akan melibatkan hubungan dengan siapa yang kita ajak untuk bertukar infomasi.

Sehingga kita akan mencocokan dalamnya isi pesan dengan lawan bicara berdasarkan kedekatan hubungan antar pribadi.

Adanya kedekatan fisik antara pihak yang berkomunikasi

Informasi dalam komunikasi kurang efektif jika tidak berdekatan secara fisik. Semakin jauh jarak fisik antar individu akan menyebabkan banyaknya gangguan yang dapat menimbulkan miss informasi.

Komunikasi efektif ketika jarak antar fisik saling berdekatan, hal tersebut karena intonasi suara dan mimik tubuh dapat kita baca dengan mudah. Berbeda jika komunikasi terjadi jarak jauh.

Walaupun kita menggunakan ponsel akan kurang efektif karena bisa terjadi gangguan seperti sinyal, penjelasan materi hanya lewat kata-kata, atau pun tidak dapat melihat mimik wajah.

Sehingga kedekatan secara fisik ini akan sangat mempengaruhi terhadap keberhasilan komunikasi yang efektif.

Bersifat transaksional

Ketika kita berkomunikasi, kita akan mendapatkan pertukaran pesan informasi. Hal ini karena saat proses komunikasi antar individu terjadi proses penyampaian dan penerimaan pesan secara langsung.

Misalnya ketika bekerja kita melaporkan hasil data pekerjaan, manajer akan mendapatkan informasi hasil pekerjaan dan kita akan mendapatkan timbal balik seperti pekerjaan sangat bagus atau pun tidak.

Adanya ketergantugan satu sama lain

Ketika kita membicarakan mengenai mobil keluaran terbaru, artinya kita memiliki kebutuhan untuk mengetahui mengenai produk mobil tersebut. Pemilik informasi atau pun penerima informasi akan bergantung pada informasi mobil. Sehingga dalam proses komunikasi akan adanya timbal balik yang berkaitan dengan topik tersebut.

Jika saat kita berkomunikasi adanya topik yang berbeda dan kita tidak memahami, tentunya hal ini akan menimbulkan kesenjangan dalam komunikasi antara tiap individu. Oleh sebabnya, pesan informasi yang akan disampaikan sangat penting dalam komunikasi.

Komunikasi antar pribadi tidak dapat diubah maupun diulang.

Pada saat kita berkomunikasi antar pribadi, sebuah pesan yang telah kita sampaikan tidak dapat dirubah atau pun kita ulang. Sehingga, penyampai informasi dan penerima informasi akan mempunyai reaksi yang berbeda-beda.

Oleh sebabnya, saat proses komunikasi berlangsung kita perlu memperhatikan pesan apa yang akan disampaikan atau cara penyampaian pesan yang benar. Sehingga tidak menimbulkan lingkungan yang non kondusif.

Contohnya ketika kita menyinggung seseorang secara tidak sengaja maupun tidak sengaja. Individu tersebut akan memberikan reaksi terhadap informasi yang ia pahami, misalnya memukul atau menyinggung balik. Tentunya, hal ini dapat menyebabkan pertengkaran antar individu baik fisik atau pun secara verbal.

Selain itu, walaupun kita menyesal nantinya kita tidak dapat mengulang apa yang telah kita sampaikan atau merubahnya.

Ciri – Ciri Komunikasi Antar Pribadi

Komunikasi antar pribadi memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Komunikasi informasi terjadi secara dua arah, sehingga terjadi suatu dialog bukan monolog
  2. Adanya keterbukaan, empati, dukungan, hingga perasaan individu dalam prosesnya. Sehingga komunikasi ini melibatkan psikologis
  3. Adanya kesetaraan agar dua pihak dapat saling menghargai
  4. Potensi umpan balik dari lawan bicara sangat tinggi walaupun tingkat informasi menyebar akan sangat lambat
  5. Komunikasi ini akan berefek langsung kepada perubahan sikap individu
  6. Adanya partisipasi dua atau lebih individu dalam arus komunikasi

Jenis Komunikasi Antar Pribadi

Menurut Abraham Maslow bahwa manusia memiliki setidaknya empat kebutuhan utama, salah satunya yaitu adanya kebutuhan sosial untuk memperoleh rasa aman dan nyaman.

Hal tersebut dapat mereka dapatkan dalam hubungan komunikasi antar pribadi.

Oleh sebabnya, komunikasi menjadi hal yang sangat manusiawi dan natural bagi seorang manusia. Selain itu, hubungan komunikasi yang inten dan baik dapat meningkatkan kemampuan seseorang untuk berkomunikasi.

Semakin meningkatnya kemampuan tersebut, akan memiliki dampak kepada hubungan yang lebih baik antar manusia di dalam suatu lingkungan.

Jenis hubungan komunikasi antar pribadi, terdiri sebagai berikut:

1. Perkenalan (introduction)

Hal awal yang menghubungkan suatu komunikasi. Perkenalan merupakan kontak permulaan atau usaha dari tiap individu untuk mengenal lebih jauh mengenai lawan bicaranya. Baik dari identitas diri, sifat, hingga minat dalam percakapan.

Pada tahap perkenalan dapat terjadi setidaknya 7 hal, yaitu:

  • Informasi demografis seperti lingkungan tinggal atau usia lawan bicara
  • Pendapat mengenai objek baik hidup atau pun mati. Misalnya pendapat mengenai film
  • Sifat dari lawan bicara
  • Perencanaan masa depan
  • Membahas mengenai hobi
  • Mengenal kepribadian lawan bicara
  • Menceritakan orang lain

2. Pertemanan

Pertemanan merupakan tahap lanjut dari perkenalan. Seseorang ingin mempunyai sahabat karena memiliki satu alasan yaitu menghindari rasa kesepian. Secara naluriah manusia adalah makhluk sosial, sehingga mereka akan menghindari kesendirian.

Kemudian, manusia pun adalah makhluk yang sangat membutuhkan motivasi, saran, dan solusi untuk dirinya dalam menghadapi masalah. Tentunya, dalam hal ini manusia membutuhkan seorang teman.

Suatu hubungan pertemanan, baiknya dimulai sejak dini agar kita terbiasa untuk berkomunikasi. Kemudian, pertemanan sejak dini dapat menambah pengalaman hidup. Sehingga kita sebagai manusia dapat terus mengembangkan identitas diri, serta peningkatan cara bersosialisaso dan keterampilan dalam mengatasi masalah.

3. Keakraban

Hal ini merupakan tahap lanjut dari pertemanan. Tidak semua teman akan menjadi teman akrab. Kita pasti sudah merasakan bahwa hanya beberapa teman yang dapat  kita anggap sebagai teman akrab.

Kepada teman akrablah kita dapat lebih membukakan diri, meminta solusi, hingga gotong royong saling membantu.

Sehingga dalam prosesnya, kita akan saling bergantung dan memiliki tanggung jawab untuk saling membantu dan menguatkan.

4. Hubungan pernikahan

Dalam hubungan ini terjadi hubungan komikasi dengan adanya perbedaan karakteristik antara satu dengan yang lain. Sehingga, hubungan komunikasi pernikahan akan membentuk hubungan antar pribadi lainnya, yaitu:

  • Suami istri akan memiliki kemampuan untuk memprediksi dan menjadi suatu hal yang rutin dalam rumah tangga. Misalnya prediksi mengenai kebutuhan uang bulanan.
  • Komunikasi yang terjadi antar suami istri akan berdasarkan kepada fakta lapangan dan pengetahuan akan hal tersebut. Misalnya adalah istri akan membuatkan kopi seusai suami pulang shalat jumat atau memberitahukan suami sakit jika ia tidak masuk kantor.
  • Adaya peraturan pribadi dalam berinteraksi.

Tentunya, hubungan pernikahan lebih dalam daripada teman akrab. Oleh sebabnya, komunikasi pernikahan akan lebih terbuka satu sama lain. Sehingga, suami istri dapat saling mengerti dan meningkatkan keharmonisan rumah tangga. Selain itu, komunikasi yang lebih terbuka akan meminimalisir tingkat konflik yang terjadi dalam rumah tangga.

Konflik yang terjadi pada rumah tangga banyak yang terjadi akibat kesalahpahaman akan suatu komunikasi. Maka dari itu, hubungan pernikahan harus memiliki waktu komunikasi yang efektif tiap harinya.

Suami dan istri harus sama-sama meluangkan waktu untuk memahami satu sama lain.

Jika terjadi sikap tidak harmonis, ada beberapa kiat yang dapat kita lakukan.

  1. Keterbukaan satu sama lain
  2. Saling mendukung
  3. Bersikap positif dan pengertian
  4. Tingkatkan kepercayaan

5.Orang tua dan Anak

Hubungan komunikasi ini akan terjadi secara dua arah. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk memberikan pengetahuan dan arahan kepada anaknya. Sedangkan, anak itu sendiri memiliki kewajiban untuk mematuhi saran dari orang tuanya.

Hubungan orang tua dan anak akan tertanam sejak dini hingga anak tersebut dewasa. Oleh karena itu, komunikasi cenderung berbentuk nilai sosial dan budi pekerti yang orang tua pahami.

Komunikasi dalam keluarga akan terbagi menjadi 5, yaitu:

  1. Hubungan Laissez faire
    Komunikasi ini memiliki ciri yaitu orang tua tidak mengarahkan anak berkembang secara mandiri sehingga anak cenderung memiliki kemampuan yang rendah dalam bersosialisasi.
  2. Komunikasi protektif
    Bentuk komunikasi ini akan bercirikan ketika anak wajib mematuhi orang tuanya tetapi anak tidak diberikan ruang untuk berpendapat. Hal ini dapat menyebabkan anak tersebut rendah dalam kemampuan untuk berpendapat dan berinovasi. Dia akan cenderung mengikuti dan takut akan seseorang yang berada diatasnya.
  3. Komunikasi pluralistic
    Anggota keluarga memiliki sifat terbuka terhadap pendapat semua anggota keluarga. Oleh sebabnya, anak tidak akan takut untuk mengemukakan pendapatnya dan orang tua akan berperan sebagai pendukung. Hanya saja, sifat terlalu terbuka ini akan negative ketika anak berada dalam lingkungan yang negative. Karena fungsi orang tua sebagai pengarah kurang dominan.
  4. Komunikasi konsensual
    Komunikasi ini hampir sama dengan komunikasi pluralistic, hanya saja pendapat utama tetap pada orang tua. Sehingga, anak dapat mengemukakan pendapatnya dengan bebas tetapi orang tua yang akan mempertimbangkan.
  5. Persaudaraan
    Hubungan komunikasi yang tercipta dalam keluarga yang harmonis, penuh dengan rasa kasih sayang dan hubungan tiap anggota yang erat. Hubungan ini akan saling melindungi tiap anggota dari ancaman lingkungan yang negatif.

Sifat Komunikasi Antar Pribadi

Komunikasi memiliki sifat dalam penyampaiannya, setidaknya terdapat dua sifat dalam komunikasi.

1. Verbal communication (komunikasi secara verbal)

Komunikasi yang paling sering kita gunakan dalam menyampaikan suatu informasi. Komunikasi verbal adalah penyampaian informasi melalui media tulis atau lisan yang dapat dimengerti oleh penerima informasi.

Selain itu, media pendukung dari komunikasi verbal sangatlah banya seperti surat, telepon, gambar, video, hingga internet.

Komunikasi verbal menurut Darsun Hidayat (2012) mencakup aspek-aspek berupa:

  1. Vocabulary (perbendaharaan kata- kata)
  2. Kecepatan
  3. Intonasi Suara
  4. Humor
  5. Singkat dan jelas
  6. Timing

2. Non verbal communication (komunikasi secara tidak verbal)

Perbedaan komunikasi non verbal dan verbal adalah komunikasi non verbal menyampaikan informasi melalui isyarat tubuh seperti ekpresi mimik wajah atau tubuh.

Selain itu, komunikasi verbal dapat melalui objek mati seperti gaya berpakaian. Misalnya seseorang yang menggunakan pakaian bermerek dapat menyampaikan informasi bahwa ia adalah seseorang yang kaya.

Komunikasi non verbal pun dapat kita lihat dari segi emosi seperti gaya bicara hingga intonasi suara.

Tujuan Komunikasi Antar Pribadi

Komunikasi Antar Pribadi yang terjadi antar individu memiliki beberapa tujuan, antara lain :

  1. Pengiriman Informasi
    Tentunya, tujuan dari komunikasi yang utama dalah pengiriman informasi kepada lawan bicara. Pengiriman informasi ini harus dapat kita sampaikan secara lugas dan jelas. Sehingga perlu adanya kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif.
  2. Memunculkan emosi
    Dalam proses penyampaian informasi, selalu ada pesan emosi yang akan tersampaikan. Pesan emosi ini dapat berupa pengalaman buruk atau pun pengalaman yang menyenangkan. Oleh sebabnya, komunikasi antar pribadi dapat memunculkan emosi dan rasa simpati.
  3. Motivasi
    Efek dari komunikasi sendiri adalah dapat menumbuhkan rasa motivasi jika informasi yang ia terima bersifat inovatif dan inspiratif.
  4. Menambah relasi
    Dengan mengetahui satu sama lain secara lebih mendalam, tentunya dapat menumbuhkan pengenalan identitas diri. Hal ini dapat meluaskan relasi yang dapat berguna pada masa mendatang.
  5. Memberikan bantuan
    Artinya, kita dapat berperan sebagai pemberi saran atau bantuan terhadap lawan bicara berdasarkan pengetahuan dan pengalaman hidup.

Tinggalkan Balasan