Manajemen Biaya Lingkungan : Pengertian, Pelaporan, dan Contoh | Anyabila

Manajemen Biaya Lingkungan : Pengertian, Pelaporan, dan Contoh

Adanya peraturan mengenai pengelolaan lingkungan berdampak signifikan pada keuangan perusahaan. Sehingga perusahaan perlu memiliki alokasi biaya untuk lingkungan yang cukup dan melakukan manajemen biaya lingkungan dengan baik.

Jika kita melihat negara di eropa, biaya lingkungan ini menjadi hal yang menjadi prioritas utama bagi mereka. Hal tersebut karena peraturan yang semakin ketat dan mengatasi isu lingkungan menjadi nilai lebih yang kompetitif untuk para pesaingnya.

Pengertian Manajemen Biaya Lingkungan

Biaya lingkungan adalah biaya yang perusahaan keluarkan karena adanya dampak dari kualitas yang buruk.

Manajemen biaya lingkungan adalah segala aktivitas untuk mengelola, merencanakan, dan mengaplikasikan hal-hal yang terkait dengan pengukuran dan pelaporan biaya pada lingkungan.

Biaya lingkungan merupakan persentase dari total operasional. Biaya lingkungan dapat kita bedakan menjadi empat kategori, yaitu:

  1. Total biaya pencegahan
  2. Deteksi lingkungan
  3. Biaya kegagalan internal
  4. Biaya kegagalan eksternal

1. Total biaya pencegahan

Jumlah biaya yang perusahaan keluarkan untuk meminimalisir atau menghilangkan limbah dari proses produksi yang dapat berdampak buruk bagi lingkungan sekitar perusahaan. Contohnya adalah dengan berinvestasi mesin yang lebih canggih, mengefektifkan proses produksi, atau mengganti material produk dengan yang ramah lingkungan.

2. Deteksi lingkungan

Jumlah biaya yang perusahaan keluarkan untuk menganalisa atau mendeteksi apakah standar operasional dan produk yang telah perusahaan hasilkan berdampak buruk bagi lingkungan.

Sehingga, perusahaan akan melakukan uji coba terhadap semua standar operasional perusahaan.

3. Biaya kegagalan internal

Biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk semua aktivitas karena adanya limbah proses saat produksi, tetapi tidak dibuang ke pihak eksternal.

Contohnya, perusahaan memiliki divisi yang khusus untuk memusnahkan limbah.

4. Biaya kegagalan eksternal

Jumlah biaya yang perusahaan keluarkan untuk mengolah limbah ketika keluar dari lingkungan perusahaan. Contohnya membayar jasa perusahaan lain untuk memusnahkan limbah atau masyarakat sekitar. Skema tersebut kita kenal dengan biaya yang terrealisasikan.

Sedangkan ada pula biaya yang tidak terrealisasikan ketika perusahaan membuang limbah ke lingkungan eksternal perusahaan namun yang mengeluarkan biaya limbah tersebut pihak lain yang terkena dampak.

Pelaporan Biaya Lingkungan

Sangat penting bagi perusahaan dapat mendata dan melaporkan kinerja lingkungan dan biaya lingkungan yang dikeluarkan.

Pelaporan biaya lingkungan memberikan poin yang penting berdasarkan kategorinya, yaitu:

  1. Meningkatkan laba keuntungan perusahaan
    Dengan laporan yang sesuai, perusahaan dapat mengoptimalkan biaya lingkungan dan mengetahui secara rinci apa saja biaya yang perusahaan perlu keluarkan dan tidak perlu dikeluarkan. Hal ini dapat mencegah sikap korupsi oknum yang dapat merugikan perusahaan dan mengurangi nilai keuntungan yang perusahaan dapatkan.
  2. Mengoptimalkan biaya pencegahan daripada biaya kegagalan internal maupun eksternal
    Ketika memiliki data yang lengkap, perusahaan dapat melakukan analisa dan perbaikan pada metode yang saat ini perusahaan terapkan. Hasil analisa data diharapkan dapat menciptakan metode yang dapat mewujudkan zero waste atau metode tanpa limbah sesuai penerapan ilmu metode six sigma.

Contoh Manajemen Biaya Lingkungan

Kami akan memberikan umum dari perhitungan manajemen biaya lingkungan.

Contoh Manajemen Biaya Lingkungan

Ketika perusahaan memproduksi susu bubuk dalam kemasan, perusahaan akan membutuhkan input berupa bahan baku dan bahan kemas seperti roll alumunium, kertas dus dan karton box. Dalam prosesnya, perusahaan menghasilkan 100rb produk dengan nilai waste kemasan 1%.

Proses produksi dari perusahaan tersebut menggunakan mesin yang sudah jadul.

Kemudian perusahaan menjual produk tersebut hingga mendekati masa kadaluarsa. Terhitung total yang terjual sebanyak 80rb produk.

Jika kita cermati, maka terdapat waste kemasan sebanyak 10% saat proses. Artinya limbah kemasan saat proses produksi sebanyak 1rb kemasan. Kemudian, perusahaan mendapatkan limbah tambahan ketika proses retur sebanyak 20rb produk.

Untuk mencegah jumlah limbah tersebut, perusahaan dapat melakukan beberapa cara sebagai berikut:

  1. Mengurangi jumlah produksi ke angka 80rb, sehingga waste produk menghilang atau mengecil. Dan limbah kemasan menjadi 800pcs.
  2. Memperbaiki kualitas mesin atau mengganti mesin baru yang lebih canggih untuk mengurangi limbah produksi.

Akhirnya, perusahaan melakukan perhitungan.

Biaya limbah saat ini sekitar 200jt tiap produksinya, jika poin 1 mereka laksanakan maka akan mengurangi sebesar 180jt rupiah. Kemudian, ketika mereka memperhitungan poin 2 maka nilai limbah berkurang menjadi 5jt tiap produksi. Ternyata, bukan nilai limbah saja yang berkurang, tetapi nilai produktivitas produksi naik signifikan. Dampaknya, perusahaan dapat meningkatkan kapasitas produksi atau mengurangi jumlah sumber daya manusia.

Setelah menganalisa dan memperhitungan keuangan perusahaan. Perusahaan memilih untuk melakukan poin 1 saja, karena harga mesin yang lebih canggih sangat mahal.

Tinggalkan Balasan