Rekayasa Ulang Proses Bisnis (BPR): Pengertian dan Penjelasan | Anyabila

Rekayasa Ulang Proses Bisnis (BPR): Pengertian dan Penjelasan

Terkadang, meningkatkan proses bukanlah hal yang paling efisien yang dapat perusahaan lakukan. Sebaliknya, perusahaan ingin merekayasa ulang proses. Sehingga daripada memperbaiki proses, perusahaan lebih baik memulai dari awal. Atau metode sebelumnya, yaitu manajemen proses bisnis (Business process reengineering atau BPR) kita ganti dengan metodologi Rekayasa ulang proses bisnis.

Dalam artikel ini, kita akan membahas mengenai pengertian dari BPR, tahapan, dan manfaat.

Pengertian Rekayasa Ulang Proses Bisnis (Business Process Reengineering)

Rekayasa ulang proses bisnis (Business process reengineering) adalah proses perubahan bisnis secara radikal terhadap proses bisnis, dimana tujuannya untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi perusahaan. Pada proses perubahan ini tidak termasuk perubahan struktur organisasi dan fungsi bisnis itu sendiri.

BPR ini banyak perusahaan lakukan ketika tertinggal jauh dari persaingan oleh kompetitornya. Namun rekayasa ulang proses bisnis ini memiliki resiko yang lebih besar daripada Business Process Management (BPM) Atau Manajemen Proses Bisnis.

Tahapan Rekayasa Ulang Proses Bisnis

Dalam pengaplikasiannya, metode ini akan melalui beberapa tahapan sebelum dapat mengerjar para pesaing, yaitu:

  1. Fokuskan kembali nilai-nilai apa yang dapat perusahaan tawarkan kepada para pelanggan. (Refocus)
  2. Desain kembali proses dengan teknologi informasi yang lebih efektif dan terbarukan. (Redesign)
  3. Rombak kembali organisasi ke dalam fungsi dan tanggung jawab yang sepadan dari awal proses sampai akhir proses BPR. (Reorganize)
  4. Analisa ulang masalah organisasi dan anggota secara keseluruhan. (Analyze)
  5. Tingkatkan proses bisnis pada seluruh organisasi. (Improve)

Manfaat dari BPR adalah sebagai berikut:

Metode analisa bisnis ini tentunya memiliki banyak manfaat agar perusahaan dapat terus eksis dan dapat bersaing. berikut manfaat metode BPR , yaitu:

  1. Meningkatkan output barang
  2. Menaikan kepuasan pelanggan dan menarik pelanggan dari kompetitor
  3. Meningkatkan kualitas kerja dan kemampuan individu
  4. Mengefektifkan proses kerja
  5. mengefesiensikan biaya kerja

Contoh Rekayasa Ulang Proses Bisnis

Contoh dari proses Business process reengineering ini pernah dilakukan oleh perusahaan mobil Ford yang menggantikan sistem mereka yang masih manual dengan sistem database online.

Masalah utama yang Ford miliki kala itu adalah departemen ford kelebihan pegawai yang sangat banyak. Mereka mempekerjakan sekitar 500 orang, sangat signifikan berbeda dengan Mazda yang hanya memperkerjakan 5 orang di departemen yang sama (departemen AP/ account payable).

rekayasa ulang proses bisnis

Ford meluncurkan inisiatif BPR untuk mencari tahu mengapa kinerja mereka buruk. Proses lama ford bekerja sebagai berikut:

  • Bagian pembelian menerima pesanan pembelian. Salinan diteruskan ke AP (akun hutang/ account payable)
  • Kontrol material menerima barang & mengirim salinan dokumen pengiriman ke AP
  • Vendor mengirimkan tanda terima ke AP
  • AP sudah OK dengan tiga dokumen yang dikirimkan dan baru setelah itu pembayaran dikeluarkan.

Dengan alur proses pengerjaan seperti itu, menciptakan proses yang tidak efisien dan efektif sehingga dampaknya adalah FORD harus memiliki banyak karyawan.

Menyadari hal ini, Ford sepenuhnya merekayasa ulang prosesnya. Daripada melakukan semuanya secara manual, mereka membuat database online yang mereka gunakan untuk mencocokkan berbagai dokumen.

proses setelah Business Process Reengineering

Dengan cara ini, departemen AP tidak perlu mengecek semua dokumen yang ada. Dokumen akan secara otomatis di cek oleh sistem, sehingga FORD dapat mengurangi karyawan yang berlebih.

Tinggalkan Balasan