Metode Six Sigma : Pengertian, Metode, Prinsip dan Jabatan | Anyabila

Metode Six Sigma : Pengertian, Metode, Prinsip dan Jabatan

Dalam metode manajemen operasional, kita akan mengenal salah satu metode paling populer yaitu six sigma.

Metode ini akan berfokus pada perbaikan dan peningkatan proses secara terus menerus dengan tujuan mengurangi hal-hal yang tidak berguna bagi perusahaan.

Oleh karena itu, para pelaku bisnis harus memahami metode ini agar hasil output yang mereka hasilkan lebih baik dan memiliki kualita yang dapat memuaskan ekspetasi para konsumen.

Dalam artikel ini, kita akan membahas six sigma lebih dalam.

Pengertian Six Sigma

Metode six sigma adalah salah satu metode manajemen operasional yang berfokus pada proses manufaktur dan meminimalkan tingkat waste dari output. Harapannya, hasil dari output yaitu produk atau jasa lebih baik dan lebih murah. Secara bahasa, six berarti angka 6 dan sigma merupakan standar deviasi dalam ilmu statistika.

Sedangkan menurut American Society of Quality, Six Sigma merupakan alat atau metode perusahaan agar dapat mengembangkan kapasitas proses bisnis.

Six sigma sendiri merupakan metode gabungan dari Total quality management (TQM) dan Statistical process control (SPC).

Yang kita maksud dengan waste dalam six sigma adalah segala aktivitas dalam proses produksi mulai dari proses input hingga menghasilkan output atau produk jadi yang tidak memberikan nilai tambah bagi perusahaan.

Ekspetasi dari metode ini untuk mencapai nilai yang kita sebut dengan zero waste. Walaupun kita tidak mungkin menghilangkan semua waste, kita hanya bisa meminimalisirnya saja.

Mengenal Lean Six Sigma

Six Sigma berfokus pada pengurangan variasi proses dan peningkatan kontrol proses, sedangkan lean six sigma mengurangi pemborosan (proses dan prosedur non-nilai tambah) dan mempromosikan standarisasi dan aliran kerja sehingga menciptakan keunggulan yang kompetitif.

Pada metode lean six sigma, peningkatan dan perbaikan akan berdasarkan data dilapangan yang menilai apakah proses tersebut dapat mencegah cacat produk. Efeknya, kita dapat mengurangi nilai waste, mengurangi waktu proses, dan tentunya dapat memuaskan pelanggan.

5 Prinsip Six Sigma

Dalam fokusnya, metode six sigma menerapkan 5 prinsip dalam implementasinya, yaitu:

  1. Fokus pada pelanggan
  2. Mengidentifikasi masalah
  3. Meminimalkan nilai waste
  4. Partisipasi semua anggota
  5. Fleksibel dan responsif

Fokus pada pelanggan

Dalam metode six sigma, kita harus berfokus pada apa yang pelanggan kita harapkan atau ekspetasikan. Oleh karena itu, kita harus dapat mengetahui secara terperinci apa yang sangat pelanggan kita inginkan.

Kita harus dapat menawarkan nilai lebih untuk memuaskan para pelanggan.

Metode six sigma menekankan pada nilai manfaat perusahaan dan meningkatkan mutu manfaat agar para pelanggan merasa selalu terpuaskan.

Tentunya dengan kepuasan pelanggan yang optimal akan menciptakan kelompok pelanggan loyal dan keuntungan yang besar bagi perusahaan itu sendiri.

Mengidentifikasi masalah

Perusahaan harus dapat menganalisa masalah atau potensi masalah yang dapat terjadi selama proses. Oleh sebabnya, perusahaan harus mengumpulkan dan menganalisa data yang mereka peroleh.

Dengan adanya data, perusahaan akan lebih mudah dalam mengidentifikasi masalah.

Akan tetapi, perusahaan harus dapat mengumpulkan data yang sesuai dan tidak bias. Sehingga perusahaan perlu menetapkan tujuan identifikasi analisa masalah sebelum mengumpulkan data.

Hal tersebut perusahaan lakukan agar metode six sigma dapat berjalan dengan efektif.

Meminimalkan nilai waste

Setelah perusahaan menganalisa data dan melakukan evaluasi. Saatnya perusahaan menentukan langkah apa yang dapat diambil meminimalkan proses atau mengurangi nilai waste.

Perusahaan dapat memangkas semua proses atau aktivitas yang dinilai tidak memberikan nilai tambah bagi perusahaan.

Bahkan, dalam penghilangan nilai waste ini. Perusahaan dapat mengganti metode yang selama ini mereka terapkan

Contohnya, perusahaan saat ini menggunakan proses push marketing yaitu berjualan dengan cara stok barang. Karena dinilai menimbulkan banyak waste produk dan setelah melakukan evaluasi, akhirnya perusahaan memutuskan untuk mengganti metode penjualan dengan pull marketing yaitu berjualan dengan proses preorder.

Dengan bergantinya metode berjualan, perusahaan tidak perlu lagi melakukan stok barang yang berpotensi menimbulkan banyak produk yang tidak terjual.

Tentunya, dalam proses pergantinaan tersebut kita perlu melihat terlebih dahulu pada faktor-faktor tertentu seperti jenis produk, tipe pelanggan, hingga demand atau permintaan.

Partisipasi semua anggota

Metode six sigma tidak dapat kita terapkan secara optimal jika hanya satu divisi saja yang menjalankan. Artinya, semua orang yang ada di perusahaan mulai dari para pemegang saham, manajemen tinggi, manajer hingga para staf harus dapat memahami metode ini dan mengaplikasikannya.

Jika semua anggota dapat menerapkan metode, dampak untuk perusahaan tentunya akan sangat baik. Perusahaan dapat dengan efektif meminimalkan nilai waste dan mendatangkan keuntungan yang besar.

Sebaliknya, jika anggota perusahaan tidak memahami pengaplikasiian metode ini maka dampak bagi perusahaan akan tidak optimal dan mungkin tidak akan ada perubahan sama sekali.

Faktor penting lainnya adalah pelatihan personel di semua tingkat organisasi perusahaan untuk memahami metode six sigma.

Fleksibel dan responsif

Tujuan utama dari metode six sigma adalah penghilangan nilai waste atau menghilangkan nilai-nilai yang tidak bermanfaat pada perusahaan.

Oleh karena itu, semua anggota perusahaan haruslah responsif dan fleksibel atau perusahaan berusaha menciptakan lingkungan tersebut.

Dalam penciptaan lingkungan tersebut, perusahaan dapat membuat prosedur atau merevisi prosedur yang sebelumnya ada dengan prosedur baru yang sudah menerapkan six sigma.

Sehingga para anggota perusahaan dapat dengan cepat dan mudah untuk menyesuaikan perubahan yang ada.

Metode Six Sigma: DMAIC & DMADV

Dalam proses aplikasinya, perusahaan akan memilih salah satu dari dua metode six sigma, yaitu metode DMAIC (Define, Measure, Analyst, Improvement, Control) dan DMADV (Define, Measure, Analyst, Design, Validate)

DMAIC (Define, Measure, Analyst, Improvement, Control)

DMAIC adalah salah satu metode dari 6 sigma yang paling banyak perusahaan gunakan. Yang mana metodologi ini membantu menyempurnakan proses manufaktur dengan 5 langkah:

  1. Mendefinisikan (Define) – Menguraikan masalah dengan proses pembuatan yang diberikan. Tentukan sasaran peningkatan & alat atau sumber daya apa yang akan digunakan.
  2. Mengukur (Measure) – Ukur kinerjanya. Setelah tahu data yang didapatkan, perusahaan akan memiliki ide yang lebih baik tentang cara memperbaikinya.
  3. Analisis (Analyst) – Temukan akar penyebab masalah dari data yang telah didapatkan
  4. Peningkatan (Improvement) – Setelah mengidentifikasi masalah, coba cari solusi potensial dan lakukan peningkatan.
  5. Kontrol (control) – Menerapkan proses baru dalam skala kecil dan membandingkan hasil baru dengan yang lama atau standar.

DMADV (Define, Measure, Analyst, Design, Validate)

Metode ini dapat kita gunakan ketika ingin mendesain atau mendesain ulang proses manufaktur. Perbedaan dalam menjalankan metode ini adalah adanya proses desain dan validasi.

Perusahaan menggunakan DMADV ketika hasil dari perbaikan sebelumnya tidak memberikan efek yang baik atau tidak memuaskan keinginan pelanggan.

Proses desain adalah proses pembuatan skema manufaktur baru yang merupakan hasil dari analisa data dari akar penyebab masalah sebelumnya. Sedangkan validasi artinya perusahaan akan melakukan uji coba atau trial sebelum mengubah semua proses manufaktur. Tentunya, perusahaan akan mempertimbangkan nilai plus dan minusnya terlebih dahulu dengan membandingkannya dengan standar atau proses manufaktur sebelumnya.

Jabatan Pada Six Sigma

six sigma master belt

Dalam six sigma ada 6 tingkatan level kompetensi atau jabatan sebagai acuan kemahiran sumber daya, tingkatan kompetensinya sebagai berikut:

  1. Champion / Sponsor atau TOP Manajemen
    Yang bertanggung jawab untuk mengkoordinasikan alur bisnis agar tercapainya 6 sigma.
  2. Master Black Belt
    Yang bertanggung jawab untuk membawa perusahaan mencapai tingkat kompetensi 6 sigma. Kemudian juga merupakan mentor untuk black belt.
  3. Black Belt
    Pemimpin tim yang membawa anggotanya untuk menerapkan 6 sigma yang bertanggung jawab untuk memperkenalkan dan menyebarkan metodologi 6 sigma.
  4. Green belt
    Yang menghasilkan proyek dari departemen kecil dan sukses menerapkan strategi 6 sigma.
  5. Team member
    Yang berpartisipasi dalam proyek dan terus mendukung kemajuan proyek dan selalu menerapkan 6 sigma dalam pekerjaan hariannya.
  6. Yellow, White and Other 6 Sigma Belts
    Belt ini mengikuti pelatihan dalam peran dukungan 6 Sigma sebagai pemangku kepentingan.

Tinggalkan Balasan